Memproduksi Identitas Madura-Malaysia: Peran Nilai-Nilai Islam dalam Dinamika Akulturasi Perayaan Maulid Nabi

Analisis Perspektif Pemikiran Islam Modern

Authors

  • IMAM TOBRONI INSTITUT AGAMA ISLAM K.H. SUFYAN TSAURI MAJENANG Autor/in
  • SRI MULYANI INSTITUT AGAMA ISLAM K.H. SUFYAN TSAURI MAJENANG Autor/in
  • IKBAR ROBBANI INSTITUT AGAMA ISLAM K.H. SUFYAN TSAURI MAJENANG Autor/in
  • MUKLISH PUJI PAMUNGKAS INSTITUT AGAMA ISLAM K.H. SUFYAN TSAURI MAJENANG Autor/in

DOI:

https://doi.org/10.57210/qalam.v6.i2.225

Keywords:

Akulturasi, Diaspora Madura, Identitas Hibrida, Maulid Nabi, Pemikiran Islam Moderen, Nilai-nilai Islam

Abstract

Diaspora Madura di Malaysia menghadapi tantangan ganda: beradaptasi dengan budaya tuan rumah (Melayu-Malaysia) sekaligus mempertahankan warisan leluhur (Madura). Perayaan Maulid Nabi SAW menjadi salah satu arena krusial di mana negosiasi identitas ini berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis (1) bagaimana identitas hibrida "Madura-Malaysia" diproduksi secara aktif melalui ritual Maulid; (2) peran sentral nilai-nilai Islam dalam memediasi dinamika akulturasi antara budaya Madura dan Melayu; dan (3) bagaimana fenomena ini dapat dianalisis sebagai manifestasi rasional dari Pemikiran Islam Modern (PPMDI). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus etnografi, melibatkan observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan tokoh agama, pemimpin komunitas, dan peserta Maulid (generasi tua dan muda) dari komunitas Madura di Selangor, Malaysia. Data dianalisis secara tematik dan diinterpretasikan menggunakan kerangka teori identitas diaspora (Stuart Hall), strategi akulturasi (John Berry), dan neo-modernisme Islam (Fazlur Rahman). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perayaan Maulid adalah praktik integrasi yang sukses, ditandai dengan perpaduan elemen kuliner, bahasa, dan seni (seperti shalawat langgam Madura dan kompang Melayu). Nilai-nilai Islam—khususnya mahabbatur rasul (kecintaan pada Nabi) dan ukhuwwah (persaudaraan) berfungsi sebagai mediator dan justifikasi utama yang melampaui partikularisme budaya. Fenomena ini bukanlah tradisi statis, melainkan "produksi identitas" yang sadar dan adaptif. Dari perspektif PPMDI, praktik ini merefleksikan pemikiran neo-modernis yang cerdas, yang mampu membedakan antara substansi ajaran (nilai universal Islam) dan bentuk ekspresi (budaya lokal), menjadikannya strategi rasional untuk kohesi sosial di perantauan.

References

Abdullah, M. H. (2021). Preserving Javanese identity and cultural heritage in Malaysia. Cogent Arts & Humanities, 8(1), 1956068. https://doi.org/10.1080/23311983.2021.1956068

Akbar, A. (2020). Fazlur Rahman's influence on contemporary Islamic thought. American Journal of Islam and Society, 37(1-2), 27-49. https://doi.org/10.35632/ajis.v37i1-2.827

Anshori, A. (2024). Reposisi gerakan Islam modern di tengah perubahan sosial dan politik di Asia Tenggara. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jambi (JISIP-UNJA), 9(1), 49-60.

Aswan, D. H. (2023). Heritage language sebagai identitas etnis anak imigran Indonesia di Malaysia: Studi sosiolinguistik dalam pewarisan bahasa. Sirok Bastra, 11(2), 133–148.

Berry, J. W. (1997). Immigration, acculturation, and adaptation. Applied Psychology: An International Review, 46(1), 5-34.

Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77-101.

Bruinessen, M. van. (2014). Indonesia's Nurcholish Madjid and Abdurrahman Wahid as intellectual 'Ulama': The meeting of Islamic traditionalism and modernism in neo-modernist thought. Studia Islamika, 4(1). https://doi.org/10.15408/sdi.v4i1.786

Fuadi, M. A., Mahbub, M., el-Mahanani, Q. F., Rohman, A. N., Assaiq, M. R., Ulfah, M., & Wijaya, R. (2020). The dynamics of the Indonesian Hadramis on the Maulid celebration. QIJIS (Qudus International Journal of Islamic Studies), 8(2), 389-430.

Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures. Basic Books.

Hall, S. (1990). Cultural identity and diaspora. In J. Rutherford (Ed.), Identity: Community, culture, difference (pp. 222-237). Lawrence & Wishart.

Hamidah. (2011). Pemikiran neo-modernisme Nurcholish Madjid – K.H Abdurrahman Wahid: Memahami perkembangan pemikiran intelektual Islam. Jurnal MIQOT, XXXV(1), 86-103.

Hasan, H. (2020). The role of the Indonesian Muslim community identity in strengthening Indonesia-Malaysia relations. Journal of ASEAN Studies, 7(2), 154-170.

Huda, M. N., Hidayat, R., & Wathani, S. (2024). The art of Maulid Ad-Diba' between tradition and Islam in the archipelago from a multicultural education perspective. Mimbar: Jurnal Sosial dan Pembangunan, 41(1), 109-123.

Khalid, K. A. T. @, & Shamsul, A. B. (2020). Cultural diversity in Malaysia and the reconciliation for integration. Jebat: Malaysian Journal of History, Politics and Strategic Studies, 47(3), 303-321.

Krisnawati, A. (2023). Krisis identitas anak pekerja migran Indonesia di Malaysia. ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/376887666_Heritage_Language_sebagai_Identitas_Etnis_Anak_Imigran_Indonesia_di_Malaysia_Studi_Sosiolinguistik_dalam_Pewarisan_Bahasa

Munandar, A. (2025). Reposisi gerakan Islam modern di tengah perubahan sosial dan politik di Asia Tenggara. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jambi (JISIP-UNJA), 9(1), 49-60.

Nabilla, H. S., & Syafrizal. (2024). Diaspora Minangkabau di Malaysia: Biografi Elvis Syefrizal dan perannya dalam pelestarian budaya. Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya, 26(1), 123-134.

Naufal, M. Z. (2022). Negotiating Bugis identity in the digital age: Social media and the Malaysian Buginese diaspora. Cogent Social Sciences, 8(1), 2066765. https://doi.org/10.1080/23311983.2022.2066765

Naufanita, H. (2019). Discourse analysis of Indonesian diaspora: Conceptual review in international relations. ResearchGate.

Rachmat, A. N., et al. (2024). Penanaman nasionalisme kepada anak pekerja migran Indonesia di Malaysia. Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma, 5(1), 52-61.

Rahman, F. (1982). Islam and modernity: Transformation of an intellectual tradition. University of Chicago Press.

Rahman, F. (1984). Islam and modernity: Transformation of an intellectual tradition. The University of Chicago Press.

Siddiqui, A. (2020). Between Western academia and Pakistan: Fazlur Rahman and the fight for fusionism. Modern Asian Studies, 54(3), 994-1034.

Sonn, T. (2015). Fazlur Rahman and the search for authentic Islamic modernism. American Journal of Islam and Society, 32(4), 1-18.

Sunarti, S. (2021). Fluid ethnicity: The dynamics of Javanese-Malay identity construction in Malaysia. Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial, 4(02), 163-178.

Turner, B. S. (1994). Religion and social theory. Sage Publications.

Wahid, A. (2014). NUsantara: Membaca ulang gerakan-gerakan Islam. Penerbit Contoh.

Warsito, T., & Surwandono. (2022). The role of Indonesia's diaspora in Malaysia for peace. Journal of Indonesian Social Sciences and Humanities, 13(1), 1-12.

Warsito, T., Surwandono, & Pahlawan, I. F. (2022). The potential of the Indonesian diaspora as agents of peace in Malaysia. Journal of International Relations and Diplomacy, 13(1), 1-14.

Yuliani, D., & Hidayat, A. (2024). Overcoming cultural barriers: Intercultural communication competence among Indonesian migrant workers in Malaysia. Frontiers in Sociology, 9, 1321451. https://doi.org/10.3389/fsoc.2024.1321451

Downloads

Published

2025-12-01

How to Cite

Memproduksi Identitas Madura-Malaysia: Peran Nilai-Nilai Islam dalam Dinamika Akulturasi Perayaan Maulid Nabi: Analisis Perspektif Pemikiran Islam Modern. (2025). QALAM: JURNAL PENDIDIKAN ISLAM, 6(02), 1-10. https://doi.org/10.57210/qalam.v6.i2.225

Similar Articles

1-10 of 28

You may also start an advanced similarity search for this article.